Di Indonesia, kartu kredit mulai dikenalkan pada masyarakat pada tahun 1970-an. Adanya kebijakan pemerintah dalam bidang moneter dan adanya strategi bank dalam memasarkan produk perbankan sangat menunjang perkembangan kartu kredit. Beberapa bank dl Indonesia telah memanfaatkan bisnis kartu kredit sebagai salah satu usaha meningkatkan pelayanan dan sekaligus untuk menarik keuntungan ekonomis yang mempunyai prospek baik pada masa mendatang. Kesempatan untuk menciptakan keuntungan melalui bisnis kartu kredit lebih banyak dimiliki oleh bank yang mempunyai jaringan yang kuat dan banyak tersebar diberbagai wilayah, karena dengan demikian akan mempermudah untuk memasarkannya melalui nasabahnva. Bisnis kartu kredit di Indonesia dimulai pada tahun 1968 ketika Amerika Exepres Bank memberikan pelayanan kartu terbitan luar Indonesia. Tahun 1973. Diners Club yang berpusat dl Chicago Amerika Serikat mulai memperkenalkan kartu kreditnya di Indonesia. Pemilik kartu Diners Club di seluruh dunia ada kurang lebih 10 juta orang yang tersebar di 160 negara pada kurang lebih 2 juta tempat belanja. Di Indonesia kartu kredit Diners Club dapat dibelanjakan pada kurang lehih 11.000 tempat belanja dengan jumlah pemilik kurang lebih 32.000 orang. Setelah kartu Diners Club yang muncul pada tahun 1973, tahun 1979 muncul kartu kredit BCA Card yang diterbitkan Bank Central Asia, tahun 1983 muncul kartu kredir Master Card yang diterbitkan Bank Central Asia dan kartu kredit Visa Card di seluruh dunia ada 329 dengan jumlah pemilik kurang lebih 242.5 juta orang. Sampai dengan November 1990, jumlah pemilik kartu kredit Visa Card yang diterbitkan Bank Duta mencapai kurang lebih 90.000 yang yang dapat digunakan pada kurang lebih 10.000 tempat belanja. Jumlah tersebut dapat dicapai Bank Duta karena Bank Duta menggunakan sistem sponsor member, yaitu bank duta dalam memasarkan kartu kredit Visa Card bekerja sama dengan, 60 bank sewasta. Jumlah pemegang kartu kredit sarnpai pada tahun 1990 baru mencapai kurant lebih 300.000 orang dari market share yang direncanakan lebih kurang 1.800.000 orang.
Di daerah Istimewah Yogyakarta, jumlah pemilik kartu kredit mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ha! ini sesuai dengan perkembangan Daerah Istimewah Yogyakarta yang cnengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat, sepe:rti ditunjukkan oleh banyaknva pusat-pusat perbelanjaan yang baru didirikan dan adanya perkembangan wilayah yang vertikal maupun horisontal (banyaknya fasilitas perusahaan yang dibangun yang membuat luas wllayah semakin lebar). Sekarang sudah tersedia berbagai jenis kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bertransaksi, seperti berbelanja di supermaket, berbelanja di departemen store, dan kebuthan lainnya.
Perkernbangan kartu kredit di selunuh dunia dan adanya deregulasi di Indonesia memberi kesempatan untuk ikut meramaikan pasar kartu kredit. Sejak tahun I970-an, beberapa bank swasta mendapat kepercayaan Internasional untuk menerbitkan kartu kredit.seperti Bank Internasional Indonesia pada tahun 1988 menerbitkan kartu kredit Visa Card, Bank Bali menerbitkan kartu kredit Master Card, Bank Danamon menerbitkan kartu kredit Master Card, dan Bank Central Asia menerbitkan kartu kredit Visa Card. Semakin banyaknya kartu kredit yang ditawarkan penerbit kartu kredit akan menimbulkan persaingan yang semakin ketat dalam mendapatkan jumlah pemilik kartu kredit. Penerbit kartu kredit yang melakukan inovasi dalam penawaran kartu kreditnya yang mempunyai kemungkinan dalam memenangkan persaingan. Hal ini dibuktikan dengan usaha inovatif yang dilakukan City Bank dalam menawarkan kartu kreditnya kepada custumernya sehingga City Bank menjadi pihak penerbit kartu kredit terbesar, misalnya karena pemegang kartu kredit menghendaki sentuhan yang eksklusif pada kartu kreditnya maka City Bank mempelopori kartu kredit yang disertai foto dan tanda tangan pemilik yang dicetak di atas kartu kredit secara digital. Citi Bank memberikan sederet layanan lain seperti perlindungan pembelian barang dengan penggantian hingga nilai tertentu, dan Citi Bank memberikan perlindungan kepada pemilik kartu kredit apabila tidak mampu membayar kewajiban.
Masyarakat konsumen merasa tidak lengkap jika didompetnya belum ada kartu kredit. Memiliki kartu kredit bukan lagi sekedar gaya atau trend, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bahkan iklan yang, ditawarkan oleh salah satu jenis kartu kredit adalah "don’t leave home without it". Masyarakat menyukai pembayaran dengan menggunakan kartu kredit karena dapat memberikan peluang bagi pemegangnya untuk membeli produk barang dan jasa atau menarik uang tunai di cabang-cabang bank penerbit kartu kredit yang akan ditagi oleh cabang-cabang bank penerbit kartu kredit secara kredit selarna waktu kurang lebih satu bulan. Jadi apabila mereka berbelanja tidak perlu membawa uang tunai dan tidak perlu membayar tunai. Masyarakat kansumen menginginkan segala sesuatu bersifat praktis. Para pedagang menerima pembayaran dengan menggunakan kartu kredit untuk menjaga agar para konsumen tetap berbelanja di pedagang tersebut atau untuk mampu bersaing dengan pedagang lain yang sudah dan belum menggunakan pembayaran dengan kartu kredit. Dengan kata lain pedagang menerima pembayaran dengan menggunakan kartu kredit sudah merupakan salah satu bentuk strategi untuk memenangkan persaingan dalam pemasaran.
Karu kredit tampaknya semakin ramai dan kartu kredit yang sukses menguasai pasar dalam masa mendatang adalah kartu kredit vang dapat memberikan pelayanan terbaik serta memberikan kemudahan lainnya. Gencarnya pemakaian kartu kredit belum dapat dipastikan akan membuat menjadi konsumtif tetapi yang jelas kartu kredit memberikan kesan yang praktis dan bergengsi bagi pemiliknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar